Saturday, August 29, 2009

Dua Sisi

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan
belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya
dengan baik.
Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya
sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau
karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan
hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak
enak akan berlangsung seharian.
Padahal, dengan 4 anak laki-lak di rumah, hal ini mudah sekali terjadi
terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama
Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan
cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &
berkata kepada sang ibu :

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan"
Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang,
tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung
berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah
ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan
tawa ceria mereka.
Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi". Seketika
muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya
mengandung isak.
Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang
tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran
disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang
ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi
tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah
karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?" Ibu itu tersenyum dan
menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika
kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat
dilihat secara positif". Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh
soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia
tahu,
keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog
terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan
NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di
atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang'
sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat
menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut
pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :


Saya BERSYUKUR;
- Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,
karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain

- Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu
artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.

- Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu
artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

- Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja
dan digaji tinggi

- Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena
itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

- Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup
makan

- Untuk bunyi Azan yang keras dan sumbang dari loudspeaker surau
terdekat, karena itu artinya saya masih bisa mendengar

- Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu
artinya saya masih mampu bekerja keras

- Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu
artinya masih ada kebebasan berpendapat

- Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu
artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.

-Untuk cucian dan baju bertumpuk yang harus digosok karena itu
artinya saya punya pakaian

-Untuk orang-orang yang menyakiti hati kita baik dgn perkataan maupun perbuatan
karena itu kesempatan untuk saya belajar bersosialisasi, sekaligus intropeksi diri..

-Untuk mama yang sering mengomel karena itu artinya saya masih punya mama..
mama yang peduli bukannya cuek...

-Untuk hidup yang seringkali tidak adil, penuh masalah musibah bencana ketidakpastian,
karena itu membuat saya ungat untuk mencari Dia yang memberi kepastian.

-Untuk banyak hal yang tidak saya mengerti, tidak saya pahami, tidak masuk akal, tidak bisa saya kendalikan, karena itu membuat saya sadar bahwa saya hanya manusia bukan Tuhan yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dll...

dll...



2009 This inspiring message delivered by Inspiration Inbox
contact us : info@inspiration-inbox.com
http://www.inspiration-inbox.com (English)
http://id.inspiration-inbox.com (Bahasa Indonesia)